Malam semakin larut, namun bagi Amelia, waktu telah berhenti, terperangkap dalam sebuah keabadian yang menyakitkan. Setiap detik adalah siksaan tak berkesudahan, diwarnai oleh keheningan yang mematikan, sebuah keheningan yang lebih nyaring dari deru ombak badai. Ia terbaring kaku di atas sofa kulit yang dingin, seolah membeku, menatap kosong ke arah langit-langit yang dipenuhi bayangan lampu kristal. Cahaya lampu itu seharusnya memancarkan keindahan, namun di matanya, ia hanya melihat pantulan kehancuran jiwanya sendiri. Air matanya sudah kering, menyisakan jejak asin dan perih di pipinya yang dingin. Jejak itu terasa seperti guratan luka permanen yang takkan pernah pudar, sebuah prasasti bisu dari penderitaan yang baru saja ia alami. Di depannya, Ardi duduk di kursi single mewah, menyesa

