Amelia berjalan di parkiran yang sepi, setiap langkahnya terasa seperti menapak di atas pecahan kaca. Kaki-kakinya goyah, tubuhnya lemas, dan kepalanya berdenyut-denyut. Dia memegang dinding beton yang dingin, mencoba mencari keseimbangan saat getaran di ponselnya sekali lagi mengagetkannya. Bukan dari Ardi, yang kini menjadi mimpi buruknya, melainkan dari Bima. "Amelia, kamu di mana? Sudah selesai 'lembur'nya? Aku sudah makan malam, jangan lupa kamu juga makan, ya. Aku menunggumu..." Membaca pesan itu membuat air mata Amelia mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang dingin. Dia merasa menjadi wanita paling kotor dan berdosa di dunia. Setiap senyuman yang dia berikan pada Bima kini terasa seperti kebohongan pahit. Dia tidak bisa lagi menatap mata Bima yang penuh cinta, karena se

