Di depan altar yang dihiasi bunga-bunga putih dan cahaya lampu gantung yang lembut, Elina melangkah perlahan. Suara musik mengalun tenang, dan seluruh tamu undangan berdiri, menyambut kehadirannya dengan tepuk tangan yang meriah. Adrik, pria di ujung altar, tampak tersenyum lebar. Matanya tak lepas dari sosok Elina yang anggun dalam balutan gaun pengantin. Senyumnya menyiratkan kemenangan, seolah dia telah berhasil mendapatkan segalanya—cinta, kekuasaan, dan wanita yang diincarnya. Begitu Elina tiba di hadapannya, Adrik membisikkan kata-kata di telinganya. "Kamu terlihat cantik sekali, Elina... Seperti yang selalu kubayangkan." Elina tidak langsung merespons. Senyumnya kecil, sekilas... hampir seperti senyum palsu. Tapi tak ada yang menyadari itu kecuali dirinya sendiri. Suasana henin

