Elina terbangun dari tidurnya saat sinar matahari mulai menyinari wajahnya melalui tirai kamar. Tanpa suara, ia perlahan duduk dan mulai menyadari keadaannya pagi ini. Matanya langsung menoleh ke samping tempat tidur, namun Radit sudah tidak ada di sana. Ia memandang ke arah jendela, dan senyum pun mengembang di wajahnya. "Radit." Di dekat jendela, Radit sedang menggendong Jio dengan lembut. Pemandangan itu begitu menghangatkan hati Elina, membuatnya merasa damai dan bahagia melihat ayah dan anak itu berbagi momen bersama. "Pagi, Elina," sapa Radit sambil tersenyum. "Kamu bangun lebih dulu," kata Elina mendekat. Radit mengangguk pelan. "Iya, tadi Jio bangun, jadi aku kasih dia s**u. Untungnya dia nggak menangis. Sepertinya dia tahu kita kelelahan semalam." Pipi Elina memerah seketik

