Kina masih kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Elina kemarin, dia mengatakan kalau harus menerima itu. Sebenernya Kina juga menyukai Rian, hanya saja dia memang yang suka berhalu dan nonton Drakor, membuat dia jadi sulit dipercaya. "Ah, sulit sekali." Dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah ini. Pikirannya penuh sesak oleh bayangan Rian, hingga dia hampir tak menyadari dering ponselnya yang membuyarkan lamunan. "Halo, Bela," ucap Kina, mencoba terdengar normal. "Ah, Kina. Kamu sibuk?" suara Bela terdengar agak cemas. "Enggak juga, kenapa?" "Bisa temanin aku ke butik? Dani nyuruh aku pilih gaun pengantin, tapi dia nggak bisa nganterin. Katanya lagi ada urusan kantor." Kina terdiam sejenak. Kalau dia terus di rumah, pikirannya pasti kembali ke Rian. Mungkin ini bisa

