Di kantor. Radit duduk di kursinya, tapi pikirannya tidak tenang. Sejak pagi, Elina tak menatapnya sekalipun. Tak ada senyuman, tak ada sapa. Hanya dingin. Dingin yang menusuk. “Elina,” panggilnya pelan. Wanita itu menghentikan aktivitasnya sejenak. “Kenapa?” sahutnya dengan nada ketus, tak menoleh. Radit menelan ludah. Ada yang salah, jelas. Tapi apa? “Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya, mencoba mencari celah dari sikap dingin Elina yang tak biasa. Nada suaranya mengandung kekhawatiran. Elina menatapnya tajam kali ini. “Menurut kamu, kenapa aku marah?” Radit terdiam. Dia bukan tipe orang yang pandai menebak perasaan orang lain. Tapi sekarang, dia tahu bahwa apapun ini, bukan hal sepele. “Aku... nggak tahu,” ucapnya jujur. Elina mendengus, matanya berkaca-kaca tapi penuh kemar

