Elina melirik jam di dinding ruangannya. Waktu masih belum menunjukkan tanda-tanda pulang, namun hatinya sudah tak sabar untuk segera bertemu Kina. Beberapa hari terakhir, mereka berdua memang intens berbicara mengenai sesuatu yang belum sepenuhnya jelas, dan pertemuan hari ini adalah kesempatan untuk menggali lebih dalam. Dia tahu, dengan Radit yang belum terlihat di kantor, dia bisa pulang lebih dulu tanpa harus khawatir. Biasanya, Radit selalu menjadi yang terakhir meninggalkan kantor, jadi tak ada alasan untuk menunggunya. "Radit juga tidak mungkin akan pulang cepat," gumam Elina pelan pada dirinya sendiri, seolah memberi keyakinan lebih bahwa dia sudah bisa meninggalkan pekerjaan untuk hari ini. Dengan sigap, dia mulai mengemas barang-barangnya seperti laptop, buku catatan, dan beb

