Zahra's Story : Bab 9 | Menelaah Perasaan

1704 Kata

“Sayang …” Bisik Fatih membawa Zahra dalam dekapannya saat mendengar Zahra menggeliat sambil merintih. Dia mendekapnya lebih erat dan mengecup puncak kepala Zahra penuh cinta. “Jam berapa ini, Mas?” Tanya Zahra berusah lepas dari pelukan Fatih, namun Fatih justru tetap mendekapnya erat. “Masih jam satu. Perutnya tidak nyaman ya sampai kamu terbangun?” Tanya Fatih melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah sang istri. Zahra mendongak lalu tersenyum dan menggeleng. Semakin dekat dengan due date kelahiran dia justru merasa semakin ringan, tidak mengalami kelelahan dan kepayahan yang berarti, kecuali intensitas sakit kepalanya yang semakin memburuk. “Tidak kok, Mas. Malah aku tidak merasakan pinggangku sakit, aku baik-baik saja. Aneh ya? Mungkin Allah memberiku kemudahan menjelang

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN