Mata itu akhirnya bisa saling memandang, mengungkapkan kerinduan yang membuncah, rindu yang menggebu-gebu yang dirasakan olehnya kini akhirnya terbalas dengan netra itu yang menatap dengan indah kepadanya. Tanpa sadar air matanya kembali menetes, namun kini bukan lagi air mata duka, namun suka cita dengan penuh syukur, segala beban yang menghimpit d**a selama ini sirna seketika. Air matanya tumpah semakin banyak, pun dengan wanita yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu. “Ya zaujati …” Bisik Fayez dengan tangis yang tidak bisa dia bendung lagi saat dia semakin dekat dengan ranjang Hasna. “Mas Fayez …” Bisik Hasna begitu lirih, membuat Fayez menyungging senyum semakin lebar dan menggenggam erat tangan Hasna. “Terima kasih … Terima kasih telah berjuang dan kembali kepad

