Setelah menimang beberapa jam, pada akhirnya Ayna memberanikan untuk menyalahkan ponselnya. Tepat hari ke enam, dia baru berani memegang ponsel. Selema lima hari kemarin dia benar-benar menghabiskan waktu bersama kedua anaknya. “Buna, ayo pulang,” ajak Alaska. Ayna menoleh. Itu bukan ajakan pertama kali, tapi yang kesekian. Kalau dibilang kasihan, Ayna juga kasihan. Karena semalam sebelum tidur Rania juga selalu menanyakan ayahnya. Kondisi hati Ayna memang sudah berangsur baik, tidak seperti awal sampai ke sini. Apakah sudah waktunya dia dan anak-anak pulang? Lalu nanti kalau bertemu Varrel, apa yang mau dibahasa? Sedangkan Ayna tidak mau membahas soal Acha. Suara deringan notifikasi terus terdengar tanpa henti. Ayna mewajari, pasti semua orang terus menghubungi. Maka dari itu dia memil

