Pagi ini sekujur tubuh Ayna terasa lemas. Bagaimana tidak lemas, semalam tidurnya tidak nyenyak. Anak perempuannya yang rewel, suami yang demamnya kembali tinggi, semua Keyra handle seorang diri. Sebetulnya semalam keyra sudah mengajak Varrel untuk ke rumah sakit, tapi pria itu menolak. Alhasil dari jam dua Ayna dibuat panik. Ternyata menjadi ibu rumah tangga sangatlah melelahkan fisik dan mental. Sekilas Ayna melirik jam yang terpasang di dinding. Sudah pukul enam lewat, dan dia belum buat sarapan. Alih-alih ke dapur, Ayna memilih kembali ke atas. Lebih tepatnya ke kamar Alaska. Di dalam kamar kedua anaknya masih terlelap. Ayna duduk di tepi ranjang, tangannya terulur mengusap pipi Alaska. Dalam hati Ayna berharap hanya Alaska yang bangun, Rania jangan sampai. “Abang? Abang, bangun yuk

