“Mama, maaf, aku pergi duluan ya? Kalau boleh aku titip Rania sebentar,” ujar Ayna dengan terburu-buru. Wanita itu baru saja kembali dari belakang sehabis menerima telepon. Wajah yang awalnya terlihat tenang, kini berubah menjadi pucat. Salwa yang sedang mengobrol langsung memfokuskan tatapannya ke Ayna. Kening wanita itu menyerit menatap raut wajah Ayna yang berubah drastis. Salwa bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Ayna. Tidak lama berselang dari ruang televisi Rania berlari memeluk kedua kaki Ayna. “Kamu kenapa, Na? Ada apa? Kenapa wajah kamu pucat banget?” tanya Salwa. “Aku … aku harus ke sekolahannya Alaska, Mah. Baru aja wali kelasnya telepon aku kalau Alaska demam dan muntah-muntah. Dari pagi dia emang udah demam, maka dari itu aku takut dia kenapa-napa. Aku titip Rania y

