Ruby duduk di depan meja kerjanya, dikelilingi oleh kertas-kertas kosong dan pensil-pensil yang berserakan. Ia mencoba untuk fokus pada desain yang sedang dikerjakannya, tapi pikirannya terus-menerus melayang ke Matthias. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, dan Ruby tidak bisa menghilangkan rasa kangen yang terus-menerus menghantuinya. Ia menarik napas dalam, mencoba untuk menenangkan diri. Tapi, pikirannya terus-menerus dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Apakah Matthias masih memikirkannya? Apakah ia masih peduli dengan Ruby? Atau apakah ia sudah melupakannya? Ruby menggelengkan kepala, mencoba untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu. Ia tidak ingin memikirkannya lagi, tapi ia tidak bisa membantu dirinya sendiri. Ia merasa seperti sedang terjebak dalam lingka

