Ruang perawatan Ana di penuhi keluarga mereka. Bang Arman dan mas Arsya, begitu mereka membagi panggilannya supaya adil, tampak dalam gendongan nenek - nenek mereka. Bayi mungil yang sedang tertidur itu menjadi pembicaraan di ruangan ini dari tadi. "Mereka ini kembar, tapi wajahnya satu mirip mamanya, yang satu mirip papanya," komentar tante Priska. "Biar adil, jadi nggak usah nambah lagi tante," jawab Kana. Semua wanita menatap heran ke Kana. "Kenapa?" tanya Kana yang sedang duduk di antara papa dan yangpanya. "Memang nggak mau satu lagi, anak cewek gitu mas?" tanya tante Priska lagi. "O nggak ...cukup dua aja, kasihan mamanya ... nanti punya menantu juga perempuan kan?" "Bener ... pikiran mas Kana sama dengan yangpa. Dua aja udah cukup, walau Ana masih bisa hamil lagi, tapi kan m

