Sejak tadi aku terus saja meremas kedua tanganku, entah kenapa aku sangat merasa gugup sekali. Takut jika salah saat mengucapkan ijab kabul, padahal aku sudah sangat menghafalnya di jauh-jauh hari. Pagi ini, adalah hari pernikahanku dengan Hanifa. Hari yang sudah lama, aku nantikan. Di mana aku harus melewati berbagai macam masalah, untuk sampai pada tahap saat ini. “Ga ...” aku melihat ke arah belakang, ternyata sudah ada Galang dan Abiyan. Aku tersenyum. “Tamu undangan udah mulai datang?” tanyaku dengan nada sedikit gugup. “Hmm, sudah penuh tempat acara,” jawab Galang dengan terkekeh. “Ini kami kesini, buat jemput kamu. Kakek takut kalau keluar sendiri, kamu pingsan di jalan!” Abiyan ini, bisa sekali dia menggodaku di saat seperti ini. Aku mendengus ke arah mereka, yang sedang men

