Aku mematung sesaat, masih terkejut dengan melihat seorang wanita yang beberapa saat lalu, tersenyum kepadaku dan Hani. Aku sempat melihat, dia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. “Bee ...” panggil Hani, saat lift sudah terbuka. “Bee, kenapa?” tanyanya lagi, saat aku diam saja sejak tadi. “Ngak papa, Yang.” “Kok diem saja? capek banget ya?” “Hmmm ... pengen cepet-cepet mandi, terus rebahan sambil meluk istri,” aku menjawab dengan sedikit menggodanya. Hani mencubit, lenganku. “Ngak boleh mecummm!” “Kenapa ngak boleh? Udah sah gini.” Tanpa menjawab pertanyaanku, Hani meminta untuk aku segera membuka pintu kamar. Betapa terkejutnya kami, saat pertama kali masuk. “Bee ... apa ini kamu yang bikin?” Aku menggeleng. “Bukan aku, Yang.” “Pasti kerjaan Grizellee!” “Bisa jadi, kalau

