“Yang ...” Suara Mas Reiga memanggil, di depan pintu penghubung antar kamar. Aku baru saja menidurkan Embun dan Ifa, mereka berdua sejak tadi terus saja bercanda. Jadi aku harus, mengeluarkan ribuan jurus rayuan. Agar anak-anak manis ini, mau untuk segera tidur. “Sssttt, pelankan suara Bee.” Aku turun dari ranjang, membenarkan selimut agar Embun dan Ifa tidak kedinginan. Mengganti lampu utama, dengan lampu tidur. Aku langsung, menerima uluran tangan Mas Reiga. Yang sudah menungguku sejak tadi, pasti dia sangat bosan hingga menyusulku. “Lama banget!” “Pada ngak mau tidur, Embun ngajakin Ifa bercanda terus.” “Ifa udah mau main?” “Masih agak diam, tapi sudah mau nanggepin Embun.” “Balkon yuk,” ajak Mas Reiga, aku mengangguk saja. menuruti, apa yang dia mau. “Udah di siapin, coklat pa

