Juna mematikan mesin mobil. Sunyi langsung menyergap, hanya suara burung pagi dan dengung jauh kendaraan yang lalu-lalang di ujung gang. Rumah di hadapan mereka berdiri rapi, catnya masih terlihat baru, pagar besi tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda keributan, tidak ada suara orang bercakap, justru ketenangan itulah yang membuat d**a Dewa terasa makin sempit. Dewa menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menguatkan dirinya sendiri. Tangannya sempat bergetar ketika hendak membuka pintu mobil. Juna memperhatikan dari sudut matanya. “Tenang,” ucapnya singkat, tapi penuh makna. “Kita datang baik-baik.” Dewa mengangguk. “Iya, Bang.” Juna tak langsung membuka pintu mobil, akan tetapi pria itu membuka ponselnya terlebih dahulu. Sedari tadi benda canggih i

