Tak Terduga

2133 Kata

Pintu rumah Juna tertutup pelan setelah Dewa pergi membeli bubur. Erika masih duduk di kursi makan, memeluk perutnya sendiri. Emosinya belum sepenuhnya turun, justru makin bercampur antara lapar, lelah, dan ketakutan yang sejak pagi menekan dadanya. Ia bangkit, melangkah pelan ke ruang tamu. Rumah itu terlalu rapi. Terlalu tenang. Tidak ada suara televisi, tidak ada aroma masakan seperti biasanya. Erika duduk di sofa, menatap sekeliling, lalu menghela napas panjang. “Gue beneran jadi orang numpang sekarang,” gumamnya lirih. Tangannya refleks meraih ponsel. Layar menyala, deretan notifikasi lama muncul, chat teman-temannya, undangan brunch yang tak pernah ia balas, foto-foto lama saat hidupnya masih terasa ringan. Erika menggeser layar cepat, seolah tak mau terlalu lama mengingat. Be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN