Erika akan mengambil ponsel itu, namun gerakkan tangannya didahului oleh sebuah tangan yang dengan gerakkan cepat mengambil benda canggih itu. Dewa merubah posisinya menjadi duduk, kini ia sedang memegang ponselnya yang masih menyala. "Siapa? Kok cepat banget ngambilnya?" Erika menatap curiga, ia belum sempat melihat jelas nama kontak penelepon tersebut. "Huffff ... Aku kira alarm." Dewa membuang nafas kasar. "Siapa? Kok kamu gak jawab?" tanya Erika lagi. "Orang yang naro mobilnya di bengkel, kemarin aku belum selesai ngerjain mobilnya, mungkin hari ini minta diselesaikan," jawab Dewa, ia tak mengangkat panggilan telepon itu. "Oh, kenapa kamu gak pindah ke bengkel Bang Juna aja? Kan enak kalau kerja di tempat Kakak sendiri." Erika berdiri di hadapan Dewa yang masih duduk di ata

