“Sekarang, dia mau berkompromi. Itu memang hal kecil, tapi sangat berarti,” lanjut Billy. “Tandanya, dia memang ingin menyelesaikan semuanya. Kalau kau benar-benar menurut dan menghormati batasannya, dia mungkin akan merasa aman. Dari situlah kepercayaan akan kembali terbentuk.” Billy keluar dari mobil lalu tersenyum pada Dikara. “Dia akan mengawasi setiap gerakanku,” ucap Dikara saat ikut turun. Billy terkekeh. “Dan kau tidak suka, ‘kan? Sekarang kau tahu rasanya. Begitulah yang dia rasakan dulu. Selalu diawasi dan dikontrol. Ini semacam karma, Dik. Sekarang kau bisa merasakan sendiri ketidaknyamanan itu.” Dikara hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin Billy benar. Ia pantas mendapatkannya. “Ayo, kita beli ponselnya,” ujarnya datar. “Pastikan nomornya atas namamu sendiri. Dan kau

