BAB 94 - Kompromi dan Komunikasi-2

784 Kata

“Oh, Tuhan … apa dia sehat?” tanya Ana pelan. “Aku pikir iya,” jawab Billy. “Setidaknya itu membuatnya lebih rileks dan teralihkan. Dan jujur saja, mungkin itu satu-satunya cara agar dia bisa merasa dekat dengan Juwita tanpa benar-benar melihatnya. Siapa tahu nanti, ketika masa larangan itu berakhir, mereka punya hal-hal untuk dibicarakan selain anak-anak.” Ana menghela napas seraya tersenyum lembut. “Mungkin kau benar. Sekarang sudah cukup bahas soal Dikara. Nanti malam kau pulang? Mau makan apa?” Billy tersenyum lebar mendengar nada manjanya. “Hmm…” “Jangan mulai,” potong Ana sambil tertawa. “Aku bicara soal makan malam, bukan yang lain.” “Main dulu satu ronde, baru makan,” balas Billy iseng. “Billy!” tegur istrinya sambil mendengus geli. “Serius, kau mau apa?” “Apa saja asal jang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN