Ana menatapnya lembut. “Tapi kau akan merasa kesepian.” Juwita menggeleng. “Aku sudah terbiasa sendiri. Sejak kecil aku selalu terasing, tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari siapa pun. Itu mengapa aku belajar komputer dan pemrograman—aku bisa melakukannya sendirian tanpa bergantung pada siapa pun.” Juwita menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Menulis pun sama. Aku duduk sendiri dalam keheningan, tenggelam dalam dunia dengan karakter yang ku ciptakan. Aku tidak pernah merasa benar-benar sepi karena mereka selalu hidup di kepalaku. Lagipula, aku belajar membedakan antara kesepian dan kesendirian. Dulu aku anak yang kesepian, mendambakan keluarga dan kasih sayang. Tapi ketika dewasa, di universitas, aku berteman dan belajar bahwa sendirian tidak berarti sepi. Aku punya orang-ora

