Momen indah itu hadir tepat ketika mereka hendak berpisah di dekat mobil, sebuah momen yang tidak pernah Dikara bayangkan sebelumnya. Momen dimana ia bisa begitu dekat dengan si kembar. Kala itu Dikara berjongkok agar sejajar dengan tinggi kedua anak laki-lakinya. Ia tersenyum lembut, menyentuh pipi mereka satu per satu, dan tanpa perlu diminta ternyata kedua bocah itu langsung memeluknya. Mereka memeluk bersamaan, erat seakan takut jarak akan memisahkan mereka terlalu cepat. Barang sejenak, Dikara menahan napas. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pelukan hari itu. Bahkan ia tidak berani berharap. Namun kenyataannya, si kembar memeluknya tanpa diminta dan sangatlah erat. Dadanya terasa sesak dipenuhi oleh perasaan yang bercampur aduk. Haru, sesal, dan cinta yang datang terlambat seolah

