Setelah menutup telepon, Billy menatapnya sambil tersenyum samar. “Sepertinya ponsel itu bukan hanya salah kirim, tapi mungkin ikut masuk ke paket yang keliru.” Dikara ikut tersenyum. “Rupanya mereka mengirim sesuatu padaku.” Ada rasa bahagia yang muncul di dadanya. Ia senang mengetahui Juwita mengizinkan hal itu. Namun, satu hal masih mengganjal pikirannya. “Paket itu dikirim ke rumah tepi pantai. Padahal dia tahu aku tinggal di apartemen,” ucapnya. “Menurutmu … dia masih mengingat rumah itu?” Bahkan di telinganya sendiri, harapan itu terdengar jelas. “Bisa saja,” jawab Billy santai. “Apa kau akan menyetir ke sana untuk mengambilnya?” “Ya.” Dikara mengangguk mantap. “Kalau tidak, aku tak bisa mengucapkan terima kasih pada anak-anak. Dan aku juga perlu mengambil ponsel itu.” Ia tersen

