Akhirnya ia menatap Dikara langsung dan itu masih terlalu lucu baginya. Juwita mendengus geli, tak bisa menahannya meski sudah mencoba. Ia belum pernah melihat pria itu dalam kondisi seperti ini. Kerutan terbentuk di wajah Dikara saat ia berdiri, basah dan kaku sambil menatapnya. Dikara mengangkat tangan dan menyisir rambutnya ke belakang, rambut yang kini basah dan berantakan. Juwita langsung memalingkan wajahnya. Gerakan sederhana membuatnya terbayang masa lalu, ketika Dikara keluar dari kamar mandi utama mereka, rambutnya masih lepek, hanya mengenakan handuk. “Maaf,” gumam Dikara akhirnya. “Aku … sempat bingung.” “Jangan lakukan itu lagi,” ucap Juwita tegas, tepat saat anak-anak datang. Kedua bocah itu berhenti mendadak saat melihat ayah mereka dalam kondisi menyedihkan. “Ayah, seh

