Pagi itu sangat menyenangkan. Juwita ikut membantu menyiapkan makan siang, melangkah ke sana kemari di dapur dengan perasaan tenang. Arum dan Cheryl terlihat sibuk menata meja di ruang makan keluarga—bukan ruang makan yang biasa Juwita lihat langsung dari tempatnya berdiri sekarang. Mereka memuat troli saji dengan piring-piring dan peralatan makan, satu per satu, dengan hati-hati. Juwita memperhatikan piring yang mereka susun dan hampir saja melontarkan kalimat, “Bukan piring yang itu.” Bahkan, Juwita tidak benar-benar mengerti mengapa set piring tersebut ada di rumah ini. Dulu, selama menikah dengan Dikara, benda-benda mahal itu hampir tidak pernah digunakan. Ia mencoba menahan diri, memilih memalingkan wajah dan berusaha keras untuk tidak ikut campur. “Sayang, bisa tolong ambilkan man

