Juwita menatap tangannya sendiri, masih terasa panas, lalu melangkah mundur dua langkah. Ia hanya berdiri di sana, menatap Dikara cukup lama. Ia tidak pernah memukul seumur hidupnya. Tidak pernah ingin menyakiti pria yang dulu ia cintai. Namun ketika bendungan air mata itu akhirnya tak tertahan—semua rasa sakit yang ia simpan selama enam minggu terakhir sebelum dunianya berubah. Membuatnya sadar kebenaran yang menyakitkan. Jelita benar-benar ingin menamparnya hari itu. Ingin membuat Dikara merasakan rasa sakit apa pun yang bisa ia berikan. Namun ia tidak pernah melakukannya. Entah mengapa, menuruni tangga itu terasa panjang. Sebagian dari dirinya sudah mati rasa. Namun jauh di dalam hati, di balik lapisan luka dan kesedihan, ada amarah yang membuncah. Ia benar-benar ingin menampar Dikar

