BAB 45 - Luka Yang Sulit Diterima-2

644 Kata

“Dia mencoba keras agar kau tidak menyeretnya ke pengadilan,” komentar Lisa bernada dingin. Ucapan itu membuat anak-anak Juwita saling berpandangan lalu melirik secara bergantian antara ibunya dan Lisa. Wajah mereka dipenuhi tanda tanya. Rupanya kabar tentang Dikara sudah lebih dulu sampai ke telinga mereka, bukan dari Juwita atau Lisa, melainkan dari seorang perawat rumah sakit. Anak-anak mendengar sendiri ucapan itu. “Dikara Darmawangsa itu sungguh keterlaluan sekali. Dia memperlakukan Juwita dengan kasar, padahal wajahnya mirip sekali dengan istrinya yang hilang.” Sejak saat itu, rasa penasaran si kembar semakin tak terbendung. Mereka mulai bertanya tanpa henti—tentang sosok Dikara, masa lalu, dan alasan semua orang menatap ibunya di lift waktu mereka tiba di Jakarta. Mereka menging

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN