Billy menatap hasil tes DNA yang baru saja diterimanya. Ia bersandar di kursi ruang kantornya sambil menarik napas berat. Angka 99,9% terpampang jelas di hadapannya—kecocokan yang sempurna tak bisa dibantah lagi. Dua anak kembar itu, sudah tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah anak Dikara Darmawangsa. Namun, yang lebih memberatkannya adalah satu pertanyaan. Bagaimana menyampaikan itu semua pada Dikara? Bagaimana caranya memberi tahu sang sahabat bahwa ia memiliki dua putra dari wanita yang dulu dikejar, diteror, dan berakhir masuk ke rumah sakit? Billy bisa membayangkan reaksi Dikara. Pria itu pasti akan meledak-ledak, menegaskan bahwa ia sudah benar sejak awal. Ia akan menuntut pengakuan, mungkin bahkan mengamuk soal perintah penahanan yang kini membatasi geraknya. Dan pada saat it

