Warni tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia harus pulang tanpa membawa kemenangan. Langkahnya terhenti di lorong kantor, tepat ketika ia melihat Veronika berdiri di dekat meja sekretaris, merapikan beberapa berkas. Sorot mata Warni menajam. Ia berbalik arah, menghampiri Veronika dengan langkah pasti dan aura angkuh yang tidak pernah ia sembunyikan. “Berhentikan perempuan bernama Nayla itu,” perintah Warni dingin. “Sekarang juga.” Kedua tangannya terlipat di d**a, seolah keputusan itu sudah mutlak dan tidak bisa dibantah. Veronika mendongak. Wajahnya tetap tenang, meski di dalam dadanya ada gelombang emosi yang naik perlahan. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini, ditatap rendah, dianggap tidak lebih dari pelengkap, hanya karena ia bukan berasal dari kalangan yang dianggap sepad

