37. Pertanyaan yang Terlambat

1185 Kata

Menjelang sore, rumah kecil itu kembali diisi tawa ringan. Astuti duduk di tikar ruang tengah sambil melipat pakaian, sementara Nayla menyiapkan teh hangat di dapur sederhana mereka. Rian sudah rapi, rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi, kini duduk bersila di antara mereka dengan wajah ceria. “Ma, Nek,” Rian membuka cerita dengan semangat, “hari ini Rian belajar tentang pahlawan nasional. Kata Bu Guru, pahlawan itu bukan cuma yang berperang, tapi juga yang suka nolong orang.” Astuti tersenyum. “Oh ya? Terus menurut Rian, siapa pahlawan itu?” Rian berpikir sejenak, lalu menoleh ke arah Nayla. “Kayak Mama. Mama kan pahlawan Rian.” Nayla terdiam sesaat. Dadanya menghangat, matanya sedikit perih. Ia mengusap kepala anak itu lembut. “Terus, Rian juga main bola sama Dimas. Tapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN