Pagi itu… suasana meja makan terasa tidak nyaman. Zayn duduk di kursinya. Diam. Tanpa banyak bicara. Sementara di seberangnya… ibunya terus berbicara. “Minggu depan kita akan mulai membicarakan detail pernikahanmu dengan Irana.” Nada suaranya tegas. Seolah semua sudah diputuskan. Zayn tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil cangkir kopi di depannya. Menyesapnya perlahan. “Ibu juga pikir… sudah waktunya kamu mulai lebih dekat dengan Irana.” “Kalian bisa mulai pergi bersama. Makan malam, atau sekadar jalan.” Zayn masih diam. Tatapannya kosong. “Jangan terlalu dingin seperti ini, Zayn.” “Irana itu calon istrimu.” Kalimat itu akhirnya membuat Zayn meletakkan cangkirnya. Pelan. Namun cukup untuk menarik perhatian. “Aku tahu,” jawabnya singkat. Dingin. Tanpa emosi. I

