41.Kalah Tanpa Pertarungan

1190 Kata

Nayla tersentak sadar dengan napas memburu. Aroma obat menusuk hidungnya, cahaya putih menusuk mata. Sekejap ia bingung, lalu ingatannya kembali bersamaan: ruang kerja, pusing, lantai yang terasa menjauh. “Rian...!” Ia langsung berusaha bangun. Tangannya gemetar ketika menopang tubuhnya sendiri. Selang infus bergoyang, monitor berbunyi pelan. Panik segera menguasai dadanya, bukan karena sakit, melainkan karena satu hal yang selalu lebih menakutkan dari apa pun: biaya. “Bu Nayla, jangan dulu,” suara Pak Hidayat terdengar cemas. Ia berdiri di sisi ranjang, wajahnya jelas lega melihat Nayla membuka mata. “Dokter bilang Anda harus istirahat.” “Aku… aku harus pulang, Pak,” Nayla memaksa duduk. Suaranya serak, matanya berkaca-kaca. “Saya tidak punya uang untuk ini. Tolong… saya baik-baik s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN