Mobil yang membawa Irana dan ibunya melaju meninggalkan gedung perusahaan Zayn. Beberapa saat suasana di dalam mobil terasa hening. Irana menatap keluar jendela dengan wajah tidak puas. Bayangan Nayla yang berdiri dengan seragam cleaning service di koridor kantor tadi terus terlintas di pikirannya. Tangannya mengepal pelan. “Ibu,” ucapnya akhirnya. Grace menoleh sedikit. “Ada apa?” “Aku tidak tenang.” Grace mengernyit. “Kenapa? Bukankah semuanya sudah jelas sekarang? Nayla hanya cleaning service di sana.” Irana tersenyum tipis, namun senyum itu penuh ketidaksenangan. “Itu justru yang membuatku tidak suka.” Grace menatapnya bingung. “Apa maksudmu?” Irana menarik napas pelan sebelum menjawab. “Selama wanita itu masih berada di perusahaan Zayn… aku tidak akan pernah tenang.” N

