Nayla sama sekali tidak mempersilakan Warni masuk. Ia sudah terlalu hafal dengan sikap perempuan itu, terlalu anti pada kemiskinan, terlalu mudah melontarkan hinaan. Alih-alih masuk, Warni justru akan meremehkan rumah kecil ini, dan Nayla tidak berniat membuka ruang bagi penghinaan, meski ia sadar betul keadaannya sering dipandang sebelah mata. Ia berdiri di balik pagar, wajahnya datar, suaranya dingin. “Ada apa Tante ke sini? Bukankah kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi?” Warni mendengus, menatap Nayla dari ujung rambut sampai kaki dengan tatapan merendahkan. “Kau ini berlagak bodoh atau memang bodoh sungguhan?” ucapnya tajam. “Kau pikir kau ini siapa sampai aku harus mencarimu?” Ia melirik gang sempit itu dengan jijik, lalu kembali menatap Nayla. “Kalau bukan karena gangguanmu

