Irana menatap tidak percaya ke arah Pram. Wajahnya sempat kehilangan warna, tetapi hanya sesaat. Ia terlalu terlatih untuk menunjukkan kelemahan. Memang ia tidak menyangka Pram akan muncul di saat seperti ini. Namun… sudah terlanjur basah. Dan sekarang, ia tidak lagi perlu bersandiwara agar Pram menyukainya. Ia sudah menjadi tunangan Zayn. Status itu cukup untuk menghapus masa lalu. Kalau bisa, ia bahkan tidak ingin memiliki hubungan apa pun lagi dengan pria itu-tidak sebagai teman, tidak sebagai kenangan. “Saya calon istri Zayn,” ucap Irana dengan nada dingin dan angkuh. “Bagaimana bisa kau memanggilku dengan namaku saja?” Tatapannya tajam, penuh jarak. Ia harus memastikan batas itu jelas. Tidak boleh ada celah. Tidak boleh ada isyarat bahwa mereka pernah dekat. Jika Zayn sampai

