Marriott Cafe yang berada di lobby hotel tempat Nino Mahendra dan keponakannya, Arjuna, menginap tampak mulai lengang. Satu per satu tamu hotel sudah meninggalkan tempat sarapan pagi itu. Nino, yang sudah turun setengah jam yang lalu, masih menunggu keponakannya yang katanya mau menyusul, tapi sampai sekarang belum tampak juga batang hidungnya. Sudah banyak hidangan yang dicoba oleh Nino, mulai dari masakan favorit lokal sampai internasional. Tentu saja, dia memakai sistem seperti biasa, hanya mengambil sedikit untuk mencoba, tapi dengan banyak varian. "Selamat pagi, Dokter Nino..." sapa seseorang yang membuat Nino menoleh. "Eh, selamat pagi, Pak Budi Wijaya ... apa kabar, Pak?" tanya Nino. "Puji Tuhan, kondisi saya sehat - sehat saja, Dok. Sudah nggak ada keluhan sama sekali, walaupun

