Lokakarya Dadakan.

1072 Kata

Udara pagi itu sejuk, langit nyaris tak berawan. Jakarta seperti melunak sedikit, memberi ruang pada dua manusia yang sedang dalam perjalanan sunyi namun penuh makna. Hannan Alfaruq duduk tegak di atas motor klasiknya. Di belakang, Andini memeluk pinggang pria itu erat. Dia mengenakan helm putih, rambutnya dikuncir rendah, dan matanya menatap ke arah jalanan yang masih lengang. Ini bukan perjalanan biasa. Bukan juga liburan dadakan. Ini adalah bentuk baru dari dialog kehidupan. "Kita mau ke mana?" tanya Andini, angin menerpa wajah cantiknya. "Tour kecil. Saya mau kamu bertemu dengan beberapa orang," jawab Hannan tanpa menoleh. "Siapa?" tanyanya lagi. "Teman. Yang tidak peduli saya Alfaruq atau bukan." Mereka berhenti di sebuah toko buku tua di bilangan gedung ala kolonial Belanda. To

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN