Udara kamar menyisakan keheningan yang nyaris sempurna. Aromanya lembut—campuran lavender dari diffuser di sudut ruangan dan sisa aroma mint yang tertinggal di kulit pria itu. Andini menarik selimut hingga ke d**a, mengira malam itu akan berakhir tenang, tanpa drama. Tapi hidup bersama Hannan Alfaruq tidak pernah sesederhana itu. Baru saja matanya mengatup, sebuah tangan berat meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya perlahan. Hangat. Kuat. Dan sangat familiar. Punggung Andini bertemu d**a bidang Hannan, lalu dagu lelaki itu mendarat santai di atas bahunya. “Mas ...,” desis Andini, matanya setengah terbuka. “Katanya mau tidur.” “Tidur, iya. Tapi peluk dulu,” balas Hannan dengan suara malas, berat, dan ... manja. Andini mengerucutkan bibir, menahan tawa. “Lho, dari tadi ini apa kalau buk

