"Ini laporan yang kamu minta!" ucap Aaron ketika memasuki ruangan dan mendapati Rainer, yang tengah memijat ruang diantara kedua matanya. "Hei, kenapa? Pusing? Sedang sakit?" tanya Aaron masih dengan posisi berdiri. Rainer mengembuskan napas panjang dari dalam mulutnya. "Sepertinya, aku telah salah mengambil keputusan," ujar Rainer. "Salah mengambil keputusan bagaimana? Apa kesepakatan bisnis kita dengan Tuan Rudolf ingin kamu batalkan??" tanya Aaron. "Bukan. Bukan masalah itu. Tapi, ini tentang adikku," balas Rainer. Aaron menarik kursi, lalu duduk di sana. Ia sudah sangat siap mendengarkan setiap keluh kesah atasan sekaligus sahabatnya ini. "Memangnya ada apa? Apa dia sudah tahu tentang ibunya??" tanya Aaron penasaran. Rainer menelan salivanya sendiri. "Bukan hanya tahu. Tapi, di

