Sepanjang perjalanan, Byantara hanya berkendara dalam diam. Lampu-lampu jalan berkelebatan, tetapi pikirannya tidak berada di sana. Setiap kali ia mengingat cara Meylin melambaikan tangan sebelum masuk dan mengunci pintu, dadanya terasa semakin sesak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang berat… seolah ia meninggalkan ketenangan yang seharusnya ia pertahankan. Setibanya di apartemen Dewi, suara bunyi bel yang ia tekan di pintu langsung dibalas dengan suara bantingan dari dalam. Pintu terbuka kasar. Dewi berdiri di ambang pintu dengan wajah merah karena marah, rambutnya sedikit berantakan, dan mata sembab. “Akhirnya kamu datang juga.” Nada suaranya dingin. Sinis. “Lama sekali, Byan. Apa kau tidak tega meninggalkan istrimu sampai membuatku menunggu hampir dua jam?” Byantara menahan napas

