Cahaya putih menusuk pelan kelopak mata Meylin. Awalnya hanya silau. Lalu suara berlapis, samar, saling tumpang tindih. “Tekanan darahnya turun…” “Pasien sempat pingsan karena shock emosional…” “Jangan biarkan dia terlalu lelah berpikir…” Meylin mengerang lirih. Alisnya berkerut. Kepalanya terasa berat, seolah ada sesuatu yang berputar-putar di dalam sana, berusaha keluar. “Mas…” gumamnya pelan, tanpa sadar. Byantara yang sejak tadi duduk di samping ranjang langsung menegakkan tubuh. Tangannya refleks menggenggam tangan Meylin. “Mey? Kamu dengar aku?” Kelopak mata Meylin bergerak lagi. Perlahan… terbuka. Wajah pertama yang ia lihat membuat dadanya terasa sesak, bukan karena asing, tapi justru karena terlalu familiar. Byantara. Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, kepalany

