Sudah semalaman berlalu sejak kecelakaan itu. Namun Meylin masih terbaring tidak bergerak di ruang perawatan intensif, tubuhnya terhubung dengan berbagai alat medis, wajahnya pucat nyaris tanpa warna. Nafasnya naik turun perlahan, seolah sedang berjuang di batas antara kembali atau benar-benar pergi. Byantara hampir tidak pernah beranjak dari sisi ranjang itu. Matanya sembab, wajahnya kusut, jas mahal yang biasa melekat rapi kini tergantung kusut di tubuhnya. Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang, jemarinya menggenggam tangan Meylin yang dingin,tidak peduli sudah berapa kali perawat memintanya beristirahat. “Bangun, Mey…” bisiknya lirih, suaranya pecah. “Aku di sini. Ayo kita pulang. Jangan pergi ke mana-mana lagi…” Tidak ada jawaban. Hanya bunyi monitor jantung yang berdetak p

