Byantara memarkir mobilnya di basement apartemen Dewi. Tangannya sempat berhenti di atas kemudi, dadanya terasa sesak. Ia tahu langkahnya kali ini bukan langkah yang seharusnya ia ambil, tapi rasa bersalah dan janjinya pada Dewi, selalu membuatnya lemah. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah keluar. Begitu pintu apartemen terbuka, Dewi langsung menyambutnya dengan wajah penuh air mata. “Kau benar-benar tega, Byan…,” ucap Dewi lirih sambil memalingkan wajah. Byantara hanya terdiam. Tatapan matanya memantul pada sosok perempuan yang dulu begitu ia cintai, perempuan yang kini lebih tampak rapuh dari sebelumnya. “Aku tidak bermaksud membuatmu marah, Dewi,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan berat. Dewi menatapnya, matanya berkilat karena sisa air mata.

