“Bang Juna kerja dimana?” tanya Mariana. Akhirnya, setelah berhasil menghentikan Juna yang sudah hendak pergi meninggalkan kafe, mereka kembali masuk lalu duduk di meja yang sama. Berhadapan. Mariana bersyukur ia menghentikan Juna. Sekarang dia bisa menikmati pemandangan indah di depannya. “Habiskan dulu makananmu, baru bicara.” “Ah, oke.” Mariana langsung mengalihkan perhatian dari pria tampan yang mempesona hatinya. Menurunkan pandangan matanya, Mariana mempercepat makannya. Memasukkan potongan daging dan kentang, lalu mengunyah cepat. Sesekali wanita itu mengangkat pandangan mata hanya untuk tersenyum ketika menyadari pria tampan yang duduk di seberang meja sedang menatapnya. Oh … jantungnya meloncat-loncat kegirangan. Juna geleng kepala melihat tingkah perempuan yang dijodohka

