Sultan tertawa. Tawa yang terdengar menyayat hati orang yang mendengarnya. Termasuk Ardian yang seketika menatap sedih pria tersebut. “Sebesar itu dia membenciku? Mungkin dia memang tidak ingin bertemu lagi denganmu. Dia sampai merelakan masa depan cerah yang bisa dia raih jika tetap berada di Jakarta. Dia itu pintar, Ardian. Sangat pintar.” Sultan menggelengkan kepala. Tarikan napas panjang Sultan lakukan sebelum pria itu memutar kepala ke samping. “Jika dia terus berusaha lari dan menyembunyikan diri dariku, maka aku akan terus berlari mengejar dan mencarinya. Aku ingin tahu siapa diantara kami yang nantinya akan menyerah lebih dulu.” “Um … Bapak tidak ingin mencoba melepaskannya? Maaf … tapi, jika memang dia tidak ingin bertemu dengan Bapak, bukankah itu artinya dia—” Ardian meringis

