Bab 153.-1

735 Kata

“Katanya pak Sultan suami kamu.” Kansa menelan saliva susah payah. Apa memang sudah waktunya bertemu dengan Sultan? Kenapa juga Sultan harus memberitahu status itu. Toh pernikahan mereka … palsu. “Kansa … apa benar pak Sultan suami kamu? Sultan Adinata Atmadja? Pimpinan tertinggi perusahaan Atmadja?” Sekali lagi Kansa kesulitan hanya untuk menelan saliva sendiri, kala mendengar pertanyaan beruntun pak Hartono. Wanita itu berusaha mengatur tarikan dan hembusan napas. “Pak, apakah memungkinkan pakde dipindah ke rumah sakit yang lain?” “Rumah sakit itu yang terbaik, Kansa. Kamu kan minta pak Ahmad dibawa ke rumah sakit terbaik. Lagipula kalau dipindah ke tempat lain, nanti harus dicek dari awal lagi. Takutnya justru tidak baik untuk pak Ahmad.” Kansa terdiam mendengarkan penjelasan pak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN