Bab 153.-3

842 Kata

Sultan menarik pelan, namun panjang napasnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi sampai bisnis papa Nabila bankrut semua. “Kalau pak Sultan berniat untuk membeli rumahnya, kami bisa membantu Bapak.” Sultan langsung menggelengkan kepala. “Tidak. Saya tidak minat. Bantu saja mencari pembeli lainnya. Supaya dia bisa segera membereskan hutang-hutangnya.” Hembusan napas keluar dari celah bibir yang terbuka. **** “Pa, tolong jangan jual rumah ini. Mau kemana kita kalau rumah ini ikut dijual? Apa dua pabrik saja tidak cukup untuk menutup hutang Papa?” Ranti sudah hampir menangis. Sepasang mata wanita itu memerah. Susah payah ia menahan air matanya. Lingkaran hitam tampak di bawah mata mama Nabila. Beberapa hari terakhir ia tidak bisa tidur. Selalu gelisah saat memejamkan mata. Hidupnya terasa h

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN