Bab 181.-1

709 Kata

“Apa sekarang aku sudah boleh menciummu?” Sultan sudah sangat ingin mencium sang istri, namun kesadaran selalu mengingatkan. Takut Kansa justru akan marah dan pergi lagi. Mungkin, saat ini yang paling Sultan takutkan bukan kehilangan harta, bukan nilai saham turun. Tapi, kehilangan istrinya untuk yang kedua kali. Cukup satu kali dia merasakan hidup tanpa istrinya. Dia tidak mau mengulang rasa kehilangan yang sama. Pria itu menatap sepasang mata sang istri. Menunggu izin dari perempuan itu sebelum bisa menyatukan bibir mereka. Tatapannya memohon, seolah jawaban dari sang istri adalah hidup matinya. Begitu melihat anggukan kepala Kansa, senyum terbit di wajah yang masih memperlihatkan bekas sisa air mata. Air mata bahagia. Sebahagia saat sekarang dia diizinkan untuk bisa merasakan kemba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN